Epidemiolog: Izin Bekerja Malah TIngkatkan Risiko Tertular Corona

Pemerintah pasalnya baru saja mengeluarkan pemberian izin untuk bekerja pada masyarakat yang berusia di bawah 45 tahun. Akan tetapi pemberian izin tersebut menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat termasuk oleh epidemiolog. Epidemiolog sendiri menilai bahwa wa itu adalah kemunduran dan dinilai kontraproduktif di tengah usaha untuk menekan penularan virus Corona. 

Epidemiolog Nilai Pemberian Izin Bekerja Tingkatkan Risiko Tertular Corona

Melansir dari CNN Indonesia ahli epidemiologi Universitas Indonesia Hermawan Saputra mengungkapkan bahwa ini adalah sebuah langkah kemunduran. “ Ini sebuah langkah mundur, kami (epidemiolog) melihat Ini adalah sebuah kebijakan yang kontraproduktif. Justru usia di bawah 45 tahun adalah usia yang beresiko tertular. Biasanya pada usia ini ditemukan tanpa gejala sehingga mereka bisa menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala) dan bisa menularkannya pada orang lain.” 

Hermawan juga menjelaskan bahwa pemberian izin pada warga dengan mobilitas tinggi itu justru akan beresiko tinggi untuk menularkan virus korona pada keluarganya. Tidak hanya itu, dirinya juga menilai bahwa risiko penularan malah bakal semakin tinggi karena OTG tidak dibatasi mobilitasnya. “Bisa terjadi lokal transmission, silent Movement, dan juga silent Killing, untuk itu sebenarnya PSBB harus ditingkatkan secara disiplin,” imbuhnya.

Seperti yang sudah diketahui bahwa sebelumnya ketua gugus tugas percepatan penanganan covid-19, Doni Monardo, berkata bahwa pemerintah akan memberikan izin pada kelompok usia dibawah 45 tahun untuk bekerja di tengah pandemi virus Corona ini. Langkah ini pasalnya diambil dengan tujuan untuk menekan potensi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) warga yang terdampak virus Corona.

“Kelompok muda usia dibawah 45 tahun mereka secara fisik sehat, punya mobilitas tinggi dan rata-rata kalau toh terpapar belum tentu sakit,” kata Doni dalam jumpa pers lewat siaran langsung togel hongkong akun Instagram sekretariat kabinet hari Senin (11/5). 

Tidak hanya itu, dirinya juga menyebutkan bahwa angka kematian akibat virus korona dari kelompok usia dibawah 45 tahun ini cuma sebesar 15% saja. dan angka tertinggi kematian akibat virus Corona ini 45% berasal dari kelompok usia 60 tahun keatas. sedangkan bagi warga yang usianya 46 tahun keatas tetap diminta untuk menjaga diri dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan juga sehat (PHBS) serta mengikuti protokol kesehatan yang sudah diterapkan oleh pemerintah.

Optimalisasi PSBB dan Juga Vaksin Corona

Sementara itu peneliti Ejikman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU)  Iqbal Elyzar pasalnya meminta kepada pemerintah untuk bisa mengoptimalkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang telah dilakukan sebelumnya. optimalisasi ini menurutnya perlu dilakukan sehingga vaksin untuk mengobati virus tersebut ditemukan. 

“Saya melihat PSBB itu pilihan kita, optimalisasi PSBB yang harus dipertahankan,” ungkapnya dalam Konferensi Pers Koalisi Warga untuk Covid-19yang mana disiarkan lewat aplikasi teleconference pada hari Senin (11/5) kemarin.

Iqbal juga menyatakan bahwa penerapan PSBB, apabila dilakukan dengan benar sebenarnya bisa menekan penyebaran virus Corona itu. Apalagi, menurutnya, dari catatan nya ada setidaknya 50% pengurangan aktivitas di luar rumah yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa wilayah pulau Jawa. Oleh sebab itu, dengan keberadaan warga yang sadar untuk berdiam diri di rumah, menurut dirinya, sudah seharusnya pemerintah juga harus mendorong daerah lain untuk turut serta melakukan optimalisasi PSBB tersebut, bukan malah membuat kebijakan tersebut kontradiktif dengan mengizinkan warga di bawah 45 tahun untuk keluar rumah dan bekerja.